Rabu, 11 Februari 2009

Selasa, 16 Desember 2008

Perusahaan AS Investasi Rp40 Triliun di Malra

LANGGUR–Sebuah perusahaan Amerika Serikat PT. Aliga bekerjasama dengan perusahaan nasional PT. Mina Marut Manado dipastikan menginvestasikan modal sebesar Rp40 triliun di Maluku Tenggara (Malra), awal 2009. Untuk maksud itu, presiden direktur kedua perusahaan menandatangani nota kesepahaman di Langgur, Malra, Selasa (16/12) tadi malam.
Nota kesepahaman ditandatangani Presiden Direktur PT Aliga Mrs Erlinda O. Humberson dan Presiden Direktur PT. Mina Marut Manado Prof. Dr Johannes Esomar Ph.D. Bupati Malra Andreas Rentanubun juga membubuhkan tandatangannya sebagai tanda persetujuan. Wakil Bupati Yunus Serang, Plt. Sekda Petrus Beruatwarin, serta sejumlah pejabat setempat ikut menyaksikan penandatanganan itu.
Dalam nota kesepahaman, PT Mina Marut memberi kuasa kepada PT Aliga untuk melaksanakan tiga proyek industri, bersama-sama dengan perusahaan setempat. Erlinda menjelaskan di Langgur, selain industri perikanan terpadu, dua industri lainnya yang akan dibangun di Malra secara bersamaan sebagai penyangga industri perikanan adalah industri biodiesel dan industri bioethanol.
Kedua industri penyangga akan menghasikan bahan bakar bagi kebutuhan armada penangkapan ikan dan kebutuhan lainnya. Bahan bakunya berupa tanaman jarak pagar (Jatropha curcas) dan singkong (enbal), yang tersebar di Malra dan Aru.
Terpilihnya Malra sebagai sasaran bisnis PT. Aliga, menurut Erlinda, karena Malra merupakan pintu selatan Pasifik yang tidak banyak diperhitungkan oleh para pengusaha internasional.
“Banyak perusahaan lebih memilih kawasan utara Pasifik sebagai area perdagangan yang dianggap lebih subur," terangnya.
Padahal, kata Erlinda, pintu perdagangan selatan pasifik memiliki peluang perdagangan internasional yang sangat menjanjikan apalagi berdekatan dengan Australia, Selandia Baru, Philipina dan Jepang.
"Jadi banyak perusahaan internasional yang memilih kawasan utara pasifik untuk mengembangkan bisnisnya tetapi kami lebih suka dan memilih kawasan selatan khusus di Malra," ujarnya.
Sebagai persiapan ke arah itu, Erlinda dan Esomar bersama timnya telah melakukan survey ke sejumlah areal petuanan adat masyarakat di Pulau Kei Kecil yang dijadikan sebagai pusat industri dan perkantoran.
"Setelah dilakukan survei sejak bulan Maret lalu hingga saat ini, kami telah menemukan dua lokasi yang tepat dan sudah siap untuk digunakan sebagai kawasan industri di Desa Ngilngof Kecamatan Kei Kecil seluas 100 hektar sedangkan 200 hektar di Dusun Semawi Desa Wain untuk perkantoran dan pabrik, " kata Esomar.
Dari hasil pendekatan dengan masyarakat setempat, menurut Esomar, warga Desa Ngilngof menyetujui lahan 100 hektar untuk pabrik ikan. Pabrik ini akan ditopang dengan kapal tangkap 30 unit ukuran 35 GT, 15 kapal longline 500-600 GT, 1 unit kapal penangkap tuna, armada pancing 15 unit, penangkap ikan 420 unit, armada penangkapan kecil 50 unit, rumpon 350 unit, ditambah dengan pusat proses, cold storage, pabrik es, pabrik daging ikan, pabrik catsuwobushi, pabrik pengalengan tuna, gudang, dan fasilitas produksi lainnya seperti perumahan nelayan, klinik kesehatan, dan pusat pembelajaran.
Selain di Ngilngof, warga Dusun Semawi Desa Wain juga menyediakan lahan 100 hektar untuk pabrik biodisel, fasilitas produksi lainnya, perkantoran, perumahan, pusat kesehatan. Di Aru dan Malra juga disetujui lahan seluas 65 ribu hektar untuk tanaman jarak pagar, 330 hektar untuk pabrik bioetanol dengan fasilitas pendukung, 100 ribu hektar untuk penanaman singkong di Aru dan Malra.
PT Mina Marut sendiri memiliki wilayah orientasi penangkapan ikan di Sulawesi Utara, Laut Halmahera, Laut Maluku, Teluk Tomini dengan pusat produksi di Kawangkoan Bawah. Sedangkan wilayah penangkapan Laut Banda, Laut Aru, dan Laut Arafuru untuk pusat produksi di Malra.
Di Amurang Sulawesi Utara, tersedia 100 hektar lahan untuk pabrik ikan, dengan kapal ikan termasuk tangker pengumpul satu unit, kapal tangkap tiga unit, longline 15 unit, penangkap tuna satu unit, 100 hektar lahan biodiesel, termasuk fasilitas produksi, kantor, perumahan dan klinik kesehatan. 65 hektar tanaman jarak pagar, 235 hektar lahan untuk kantor pusat.
Di Aru dan Malra, rencana pembangunannya dimulai awal 2009 dan dalam waktu 5-6 tahun ke depan, diharapkan produksinya sudah normal. Esomar menjelaskan, sistem penangkapan akan tetap menggunakan juga sistem penangkapan lokal yang selama ini berlangsung. Pihaknya mematok target, Malra akan menjadi industri biodiesel dan bioetanol terbesar melampaui Cina.
Bupati Rentanubun berharap, PT. Aliga dan mitranya yang telah menyatakan kesediaannya berinvestasi, tidak menjadikan Malra sebagai pusat bahan baku yang akan dikirim dan diolah ke luar melainkan sebagai pusat industri yang menghasilkan produk barang jadi dan siap untuk dipasarkan.
"Karena rakyat dan Pemkab Malra sudah siap mendukung semua kegiatan industri yang akan dibangun PT Aliga dan mitra-mitranya," ujar Rentanubun. (TL-01/SM-13)

Dari Suara Maluku, 17 Desember 2008

Sabtu, 08 November 2008

Kisah ODHA Desi Pattipeilohy


Perempuan Pemberani Itu Telah Pergi


PADA mulanya, Desiana Pattipeilohy alias Desi, hanyalah seorang perempuan biasa. Berangkat dari kampung halaman di Itawaka Saparua, dia pergi bekerja sebagai buruh pabrik kayu lapis di Batugong Ambon. Konflik sosial di Maluku tahun 1999 memaksanya mengungsi ke Kota Sorong.
Di Tanah Papua itulah, Desi berjumpa pujaan hatinya. Sebut saja namanya Pace, penduduk sorong tapi asli Ambon. Pace pernah hidup tanpa nikah dengan bekas pramuria di Sorong. Desi jualah yang mengantar Pace ke gerbang pernikahan.
Dari Sorong, pasangan Pace-Desi pergi ke Ternate, memulai hidup baru. Nahas, sebab di sana, Pace jatuh sakit. Sakitnya tidak sembuh-sembuh. Sebab itu, Desi memboyong Pace ke Ambon, tinggal di rumah orang tua Pace.
Sejak di Ternate maupun di Ambon, Desi selalu mengajak Pace berobat ke dokter. Tapi Pace berkeras hati. Sampai suatu saat, Desi juga jatuh sakit. Gejalanya mirip sekali dengan sakit Pace. Karena suaminya menolak ke dokter, Desi membawa dirinya sendiri ke rumah sakit. Alhasil, dokter menyarankan Desi memeriksakan darah. Test HIV dilakukan. Hasilnya, Desi positif terinfeksi virus maut tersebut.
Desi terpukul. Sebab, tidak pernah punya riwayat pergaulan bebas. Satu-satunya pasangannya adalah Pace, sang suami. Dalam situasi itu, diapun mengalami perlakuan menyakitkan. Seorang perawat di RS dr Haulussy sempat menyindir. ”Dulu sewaktu masih nona-nona, pacaran banyak ka apa ?” begitulah kata sang perawat.
Desi pulang ke rumah, membawa kabar hasil test darah kepada Pace dan mertuanya. Bukannya belas kasih yang didapat. Desi malah diusir dari rumah. Dia dituduh menjadi penyebab sakit suaminya, dan mengancam hidup orang seisi rumah.
Dengan air mata tumpah, Desi meninggalkan rumah Pace. Desi memilih tinggal di Passo. Tapi kabar Desi pengidap HIV cepat tersebar dari mulut ke mulut. Dua kali, Desi diusir para tetangga yang datang memberi ultimatum. Pertama kali dari rumah kos-kosan, berikutnya lagi dari rumah keluarga. Dalam situasi pahit itu, ibu kandungnya setia mendampingi.
Setelah merasa tak ada tempat berpijak di Ambon, sang ibu membawa putrinya ke kampung halaman di Itawaka. Desi hanya nyenyak dua malam di tanah kelahirannya sebab hari berikutnya, status dirinya sudah diketahui petinggi negeri. Mereka memberi ultimatum kepada Desi untuk angkat kaki dari rumahnya sendiri, dua kali 24 jam.
Kabar perlakuan terhadap Desi sampai di telinga dua pekerja sosial dari Lembaga Partisipasi Pembangunan Masyarakat (LPPM) Piet Wairisal dan Noni Tuharea. Piet dan Noni langsung meluncur ke Itawaka. Melalui pendekatan dengan pemerintah negeri dan pendeta setempat, keduanya diizinkan memberi penyuluhan kepada warga Itawaka di dalam gereja, seusai ibadah Minggu.
Setelah mendapat penjelasan bahwa kehadiran Desi di Itawaka tidak membawa ancaman penularan bagi siapapun, jemaat dan para petinggi negeri pun akhirnya batal mengusir Desi. Desi diterima sebagaimana adanya. Dia malah melaksanakan tugasnya memimpin ibadah di rumah warga.
Bukan saja warga Itawaka yang menerima Desi. Perlahan-lahan, warga desa tetangga, bahkan orang Saparua mengetahui statusnya. Desi tetap diterima penduduk Saparua saat dia ke gereja, pasar, naik angkutan umum, ojek dan sebagainya. Trauma mendapat perlakuan pahit di Ambon perlahan-lahan terhapus dengan perlakuan manis orang-orang Saparua.
Desi pun makin percaya diri dalam dampingan relawan LPPM. Sampai suatu saat, Desi melakukan langkah berani. Dia tampil di depan publik Ambon, dalam acara Malam Renungan AIDS tahun lalu. Desi naik ke podium Baileo Oikumene. Di hadapan para pejabat, tokoh masyarakat, tokoh agama, sesama ODHA, para waria, anak sekolah, dan wartawan, Desi mengumumkan statusnya sebagai ODHA. Sebuah testimoni yang dramatis sekaligus mengagumkan.
Inilah untuk pertama kalinya, seorang ODHA di Maluku berani menyatakan diri secara terang-terangan di depan publik. Maka bekas buruh pabrik tripleks itu pun menjadi bintang. Kilatan blitz fotografer, sorot kamera TV lokal dan nasional terfokus pada Desi. Tokoh seperti Rury Munandar dan Mercy Barends mencium pipi Desi, ketika dia selesai memberi kesaksian dirinya. Untuk pertama kali pula, nama asli seorang ODHA diizinkan untuk ditulis tanpa initial atau nama samaran. Desi tidak keberatan nama dan wajahnya nongol di TV atau koran.
Saat itu, Desi berjanji membaktikan dirinya untuk sesama ODHA dan ikut mencegah penularan HIV-AIDS di Maluku. Dia berharap, dengan menyatakan diri di hadapan umum, semakin banyak orang terinspirasi menghindari diri dari ancaman HIV-AIDS. Maka melalui LPPM, Desi sempat tampil dalam suatu forum nasional. Aktivitasnya sebagai ODHA dipamerkan di Jakarta, dan banyak orang belajar dari kasus Desi.
Tapi begitulah jalan hidup Desi. Rasa cinta dan rindu pada Pace, sang suami membuat dia tidak bisa tenang. Dari sekadar rindu-dendam, Desi kemudian mengalami stress berat. Dia akhirnya dirawat di Rumah Sakit Jiwa di Nania. Dalam situasi itu, kerinduan untuk bertemu Pace tidak kesampaian. Tak satupun keluarga Pace datang menjenguk, sampai akhirnya Desi pun dipanggil Tuhan. Pemakamannya di Galala, Juli lalu, tidak dihadiri satu pun orang penting. Juga tak ada publikasi sama sekali. Mungkin karena tidak ada informasi, atau heroisme Desi tidak diperhitungkan sebagai tindakan kepahlawanan seorang srikandi.
Desi pernah hadir memberi arti di tengah diskriminasi yang pernah dialami para ODHA. Sayang, menjelang Hari AIDS Sedunia 1 Desember mendatang, Desi sudah tak ada di sini. Semoga dia sudah sampai di sebuah rumah yang Maha Damai. (rudi fofid)



Senin, 22 September 2008

Revolusi Papan Bawah

Oleh : Rudi Fofid

Maluku adalah ranah teramat pedih. Semua tragedi pernah berlangsung di sini. Sejarahnya penuh amis darah dan air mata. Tapi seperti puisi kehidupan, orang Maluku selalu mendendangkan kesedihan itu. Mereka meratapi dukacitanya, dalam langgam lagu. Ajaib ! Mereka bak mereguk kebahagiaan dari nada-nada yang melankoli itu.

Padahal, Maluku sebenarnya adalah kepingan surga. Matahari terbit dan tenggelam dengan manis. Lautnya warna-warni. Kadang bergolak bak musik jazz-rock, kadang teduh laksana cairan kaca. Ratusan pulau menyembul, atol-atol cantik. Di tepinya ada hamparan pasir seputih salju selembut sutera. Angin sibu-sibu selalu datang memanja.

Di dalam laut berenang berjibun ikan. Tanpa jaring, jala, kail, bubu, sero, ikan-ikan genit datang sebagai berkah, tadampar di meti-meti. Perempuan dan anak-anak bisa berlomba panen ikan di bibir pantai. Mirip roti manah dan burung-burung dari langit, dalam kisah Eksodus ke Tanah Terjanji.

Cengkih, pala, kayu putih, kayu gaharu, kayu besi, linggua, kenari. Burung bidadari, burung paradise, dan semesta flora-fauna malesiana, moluccana, ambonensis, semuanya bagai pernak-pernik dekorasi yang spektakuler. Indah seperti di Eden.

Berkah Spice Island inilah yang menggoda petualang Christofer Columbus. Meskipun cuma sampai di benua baru Amerika, tapi kegagalan menemukan Maluku telah menjadi sumber inspirasi bagi bule-bule jangkung datang ke mari. Mereka bertaruh menjadi paling mulia berkuasa di puncak supremasi.

Nenek moyang orang Maluku adalah orang-orang tulus. Hati terbuka, tangan terbuka. Sampai-sampai, agama asli pun rela mereka lepas, diganti agama baru. Cengkeh-pala mereka beri, tanah dikasih, sampai-sampai nyawa pun mereka sumbangkan. Politik kapitalisme global masa lalu telah memperkaya Portugis, Spanyol, Prancis, Inggris dan terutama Belanda. Kejayaan mereka adalah derita bagi orang Maluku. Di sinilah baru, orang mulai sadar akan perlunya sebuah revolusi rakyat. Sekalipun dengan darah.

Revolusi Maluku oleh Pattimura dkk di Saparua, 1817 sebenarnya sudah genggaman hasil. Benteng direbut dan residen dibunuh. Tapi revolusi itu gagal di tengah jalan. Sejarah bercerita tentang pengkhianatan dan eksekusi mati. Tapi inilah revolusi rakyat yang patut dikenang sepanjang masa, sebagai inspirasi yang tidak pernah kering.

Revolusi juga digagas wartawan dan politisi ulung Alexander Jacob Patty. Dengan Sarekat Ambon dan Jong Ambon, dia ikut dalam revolusi Indonesia. Buah keringat Patty dkk dan semesta Indonesia menuntut Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia yang begitu dibanggakan sampai sekarang.

Pada zaman orde lama, orde baru, orde reformasi, para pemimpin di Maluku selalu bicara di depan mike, di mimbarnya. Isi pidadonya sama saja. Maluku kita indah, Maluku kita kaya, potensinya limpah ruah. Hanya saja, uang kita sedikit, kuasa kita kecil, SDM kita lemah, teknologi kita rendah. Ditambah lagi, laut kita luas, kapal kita sedikit. Isi pidato para pemimpin kita, ya itu-itu jua. Kalau ke Jakarta, mereka tambah lagi promosinya. Orang miskin kita banyaaak. Orang sakit kita banyaaak, orang buta huruf banyaaak. Jadi perlu uang banyaaak.

Para juru bicara Maluku selalu membawa slogan Bung Karno : Indonesia tanpa Maluku bukanlah Indonesia. Juga fakta historis, Maluku adalah satu dari delapan provinsi pertama dan tertua di Indonesia. Mungkin itu pula, pemerintah pusat selalu mengalokasikan dana dalam jumlah tertentu kemari. APBN, DAK, DAU, Dana Inpres, dll, termasuk bantuan-bantuan langsung tunai.

Ke mana dana-dana itu mengalir ? Nah, aliran dana yang tidak transparan inilah yang membuat orang Maluku sekarang hidup dalam suasana penuh prasangka dan curiga. Sebagian dana kelihatan sampai ke tujuan sesuai peruntukannya, setelah melalui proses ruwet birokrasi, proses misterius korupsi, dan berliuk-liuk menyimpang.

Pecuna non olet. Uang tidak punya bau. Tapi aroma korupsi bisa tercium di tengah kolusi dan nepotisme para pengurus aliran uang. Wartawan, aktivis, polisi, jaksa, setiap hari mencium bau korupsi. Bau itu ada di kantor-kantor pemerintah, kantor DPRD, perusahaan-perusahaan swasta sebagai mitra korupsi strategis, sampai ke cukong-cukong. Rantai korupsi ini terbangun secara sistematis, mulai dari perencanaan, sudah ada korupsinya.

Sialnya, untuk memutus rantai korupsi, selalu terbentur bukti dan saksi. Sudah begitu, praktik suap-menyuap, koncoisme, diskriminasi hukum, mafia peradilan, semua ikut melegitimasi opini bahwa membongkar korupsi tidak gampang. Padahal, dengan kekuasaan yang dijamin undang-undang, maka DPRD, bawasda, polisi, jaksa bisa memaksa mengumpulkan bukti dan saksi demi kebenaran dan keadilan. Jadi, membongkar korupsi itu sebenarnya persoalan keciiil jika ada kuasa, seperti yang sudah ada pada institusi negara.

Soal korupsi, pemimpin eksekutif dan legislatif masa kini nampaknya tidak responsif. Media sudah lumayan angkat perang terhadap korupsi, dengan berita vulgar di sana-sini. Tapi para koruptor tetap saja lenggang kangkung. Menumpuk kekayaan dan memberi sedekah kepada orang miskin. Rakyat menyangka mereka dermawan tulen. Dan cukup banyak koruptor juga rajin memberi uang kepada wartawan sebagai sahabat supaya ujung pena wartawan sedikit tumpul.

Pemberantasan korupsi di Maluku, sebagian besar hanyalah wacana semata. Selebihnya adalah omong kosong. Tak ada realisasi. Kasus 38 pengungsi pembohong yang dilapor Walikota Ambon ke polisi, adalah sebuah prestasi sang walikota. Tapi kalau sampai 38 orang ini mendekam di dalam penjara, maka telah terjadi diskriminasi luar biasa apabila koruptor dana pengungsi yang lebih menggurita tidak ada di dalam penjara.

Percepatan pembangunan, recovery Maluku, semuanya berjalan begitu lambat. Dana pemulihan Maluku malah dipakai membangun rumah pembesar daerah. Janji-janji politik yang semanis madu itu, ternyata sepahit empedu. Apa mau dikata, itulah kalau politik bertakta sebagai panglima. Spirit anti korupsi-kolusi-nepotisme (KKN) yang diusung angkatan reformasi telah mati di tangan mereka yang kini menikmati dan menggerakan kekuasaan reformasi.

Dalam situasi ini, rakyat Maluku perlu memberikan perlawanan dalam bentuk revolusi. Revolusi masa kini adalah revolusi damai, tanpa senjata, tanpa darah, tanpa air mata. Rakyat perlu menyusun agenda revolusi level papan bawah dengan kembali pada spiritualitas keringat sendiri.

Rakyat perlu menata kembali sistem ketahanan diri, keluarga dan komunitas kampung dan pulau. Membangun kembali semangat keswadayaan yang sudah pernah dibuktikan nenek-moyang orang Maluku. Keswadayaan komunitas etnis, agama, profesi, hobi, usia, dll perlu digalang sebagai kekuatan inti, supaya tidak merengek lagi pada APBD dan APBN yang selalu bocor. Juga tidak menuntut dana keserasian yang tidak serasi, dana pemberdayaan yang tidak memberdayakan, atau uang ganti rugi yang memang rugi.

Orang Maluku perlu kembali pada mentalitas asli, yakni orang yang selalu memberi dan bukan selalu meminta. Untuk bisa memberi, maka lumbung dan kantung orang Maluku harus terisi. Para petani, kembalilah menjadi petani ulang. Tanami setiap jengkal tanah dengan ubi, sayur, bumbu, tanaman obat, tanaman hias. Tanami lagi cengkeh-pala, jeruk, kelapa, durian, kenari, linggua, dan aneka pohon. Ternak juga unggas, kambing, sapi, babi, anjing. Nelayan-nelayan, bikin lagi sero dan bubu. Ambil kail lagi untuk menangkap ikan. Menarilah di atas meti, panen bia siput rumput laut.

Revolusi papan bawah dengan spirit keswadayaan akan membuat rakyat bangkit dari keterpurukan. Tanpa revolusi itu, orang Buru akan tetap miskin di depan ketel penyulingan minyak kayu putih nan wangi, orang Ambon Lease akan tetap miskin di tengah harumnya aroma cengkeh pala, orang Seram akan tetap miskin di atas gunung hijau, orang Tenggara tetap miskin dengan mutiara Arafuru, jeruk kisar, dan sebagainya.

Hanya dengan keswadayaan, revolusi papan bawah bisa bergerak dengan optimisme. Sebab dengan keswadayaan, akan hidup serentak tradisi gotong-royong, sasi, kewang, sistem demokrasi kampung, hukum adat dan segala sistem sosial tradisional yang kini sekarat. Begitu mesin keswadayaan bergerak dari kepala ke kepala, rumah ke rumah, kampung ke kampung dan pulau ke pulau, maka revolusi papan bawah sesungguhnya telah dimulai. Tanpa revolusi seperti ini, politik akan tetap menjadi panglima dan rakyat selalu menjadi obyek penderita.

Rakyat perlu memulai lagi dari nol, serentak secara berbudaya tanpa permusuhan. Supaya kelak kalau bertemu dengan seorang koruptor yang mengkhianati reformasi, tersenyumlah padanya. Taruhan, dia pasti mati tabadiri lalu meleleh seperti garam cair. Karena para koruptor sebenarnya orang-orang yang tidak berdaya, tidak punya keswadayaan. Mereka hanya kreatif di atas peluang kekuasaan yang cenderung korup itu. (rudifofid@gmail.com)